Pantu Orangtua - Pantun adalah sebuah jenis puisi lama dalam bahasa Nusantara. Kata pantun berasal dari sebuah kata patuntun yang ada dalam bahasa Minangkabau yang artinya "petuntun". pantun ini juga tersedia untuk semua kalangan seperti anak-anak,remaja dan bahkan dewasa. Khusus dalam artikel ini admin membahas mengenai pantun orangtua.
Pantun Orangtua - Pantun adalah sebuah jenis puisi lama dalam bahasa Nusantara. Kata pantun berasal dari sebuah kata patuntun yang ada dalam bahasa Minangkabau yang artinya "petuntun". pantun ini juga tersedia untuk semua kalangan seperti anak-anak,remaja dan bahkan dewasa. Khusus dalam artikel ini admin membahas mengenai pantun orangtua.


Adapun Pantun Orang Tua Tersebut Sebagai Berikut :

Akan Pelecut patah penggalan,
ambil beruk panjat kelapa.
Diri terkejut ditengah jalan
kerbau bertandung dua-dua.

Alangkah elok barang ini,
terbuat dari pada gading.
Alangkah elok orang ini,
pinggangnya genting bagai ketinding.

Alangkah harum bunga selasih,
orang di pasar mati bertikam.
Alangkah sakit bercerai kasih,
sepantun api dalam sekam.

Al Quran di atas peti,
peti dililit besi waja.
Hamba berjanji di dalam hati,
cukup nikah sekali saja.

Air Pasang bulan pun terang,
hanyutlah sampan dari jawa.
Jika datang hati yang bimbang,
bagaikan hilang rasanya nyawa.

Alu-alu memakan tunda,
tali ditarik tahan selembar.
kalau tak mau pada adinda,
baik kubalik menahan sabar.

Air dalam bertambah dalam.
hanyut periuk di dalam peti.
Hati yang dendam bertambah dendam,
cinta membara di dalam hati.

Alangkah harus bunga selasih,
orang memancing ikan belanak.
Sungguh sakit bercerai kasih,
sepantun api memakan dedak.

Asam pauh dari seberang,
asam belimbing dari Lampung.
Badan jauh di rantau orang,
teringat adik jauh di kampung.

Apa gunanya sutera Cina,
gunting tersisip di bengkawan.
Apa gunanya saya yang hina,
terlebih baik muda bengsawan.

Apa guna pasang pelita
jika tidak dengan sumbunya.
Apa gunanya main mati,
jika tak dengan sesungguhnya.

Batang dipotong dengan gergaji,
dalam airnya batanghari.
Duduk termenung menghitung hari,
menaruh walang di dalam hati.

Batu di bancah jangan diungkit,
kalau diungkit kayunya tumbang.
lebih sakit daripada sakit,
karena kekasih diambil orang.

Batu di bancah jangan diungkit,
kalau diungkit kayunya tumbang.
lebih sakit dari penyakit,
digoda kekasih orang.

Bayu dipuput seri medan,
tengah bermain disambar enggang.
Terlucut banu dari badan,
terurai kain dari pinggang.

Banyaklah hari antar hari,
tidak semulia hari Jumat.
banyaklah nabi antara nabi,
tidak semulia Nabi Muhammad.

banyaklah bulan antara bulan,
tidak semulia bulan puasa.
banyaklah tuan serupa tuan,
tidak semulia Tuhan Yang Esa.

Banyaklah masa antara masa,
tidak seelok masa bersuka.
Meninggalkan sembahyang jadi biasa,
tidakkah takut api neraka.

Banyak ika di dalam laut
ika tenggiri di dalam peti
banyak orang karam dilaut
hamba sendiri karam dihati.

banyak bukit sembarang bukit
tidak setinggi bukit tinggi
banyak sakit sembrang sakit
tidak sesakit menanggung rindu.

Banyak meninggal para syuhada,
membuang nyawa mati syahid
kalau dinda tidak percaya,
mari bersumpah kita ke mesjid

Cempedak tangkainya kandis
tetak tengar dibakar jangan.
Jika hendak mulutnya manis,
dengan dengan dipakai jangan.

Cempedak tangkainya kandis
tetak tengar dibakar jangan.
Jikalau hendak memangnya manis,
tidak boleh di dengar sangat.

Cincin baiduri dalam puas,
jatuh sebentuk dalam raga.
Bukan jauhari kiranya tuan,
maka tak mau masuk berniaga

Cincin sebentuk dalam raga
patah ditimpa tutup peti
Maka tak mau berniaga
seperti bukan lanang sejati

Colok dipotong dengan sekin,
sekin waja buatan jawa.
hendaklah diturut dengan yakin,
yakin dihati selamatlah nyawa.

Condong akan rebah bunga mengkudu,
bunga sitawar disusuni.
Tolong dan sembah oleh pengulu
gawa saya harap ampuni

Dahan patah kayu berduri
kepayang tumbuh dalam dulang
dangangan indah tidak terbelui
sayang sungguh nyawa akan menghilang

Dahulu rebab yang bertangkai
kini topi yang berbunga.
Dahulu adat yang berpakai
kini rodi yang berguna

Daun seganda dikampung cina
burung merpati makan di dulang
karena saya dagang yang hina
makanya tuan tak sedikit sayang

Dari bandung ke Sumedang
dari sumedang sambung ke pati
jangan begitu abang memandang
pandangan abang tembus ke hati

Dari bandung ke sumedang,
dari sumedang sambung ke pati
Abang memberi hamba selendang,
Kubalas dengan jantung hati

Diatas merupakan Pantun Orang Tua pilihan yang dapat kami terbitkan pada kesempatan kali ini,demikian postingan artikel ampuh sampai ketemu pada artikel selanjutnya.
Axact

Abdillah.S.A.S

Hanya Seorang Penulis Blog yang blognya selalu di copy paste tanpa ampun, dan Sekarang beralih menjadi penulis wisata di Aneka Wisata Nusantara

Post A Comment:

0 comments: