Budaya Nusantara Digunakan Untuk Menghadapi Bencana Seperti SMONG , CACI , TALEHU DAN GAGALA , SYAIR TETEU SUKU MENTAWAI , TARIAN MAENA PULAU NIAS , ALAM MENGAWASI GUNUNG AWU , ODALAN DI PURA LAUT , UPACARA ADAT MACCERA TAPPAREANG
Budaya Nusantara Digunakan Untuk Menghadapi Bencana - Bangsa Nusantara (Indonesia) terdiri dari ratusan suku bangsa , ratusan bahasa daerah serta budaya yang mendukungnya, baik berbentuk tradisi lisan ,teknologim sistem sosial kemasyarakatan serta sistem kepercayaan . Budaya yang mengkristal menjadi kearifan lokal (local wisdom) tersebut menyebar di seluruh wilayah nusantara , dan teruji mampu menjadi solusi terhadap masalah kondisi alam dari perubahan sosial masyarakatnya yang hidup di daerah bencana ini, yaitu di daerah cincin api (ring of fire) serta dalam petahan lempengan bumi.

Kearifan lokal yang banyak muncul tentang cara menghadapi bencana , baik gempa , tsunami , longsor dan gunung merapi diterapkan dalam tradisi bebentuk mitos, legenda, syair, nyanyian simbol dan tradisi lainnya.

http://www.artikelampuh.blogspot.com/p/sitemap.html

Adapun Bentuk Bentuk Budaya Nusantara Yang Digunakan Untuk Menghadapi Bencana yang berasal dari beberapa daerah yaitu :


  1. SMONG
    Pulau Simeuleu merupakan pulau di lepas pantai Aceh yang selama sepuluh tahun selalu terhindar dari bencana tsunami, hal tersebut mereka sebut smong , rahasianya terletak pada tradisi lisan dalam bentuk nyanyian (nandong) dan dinyanyikan dengan iringan biola, kendang dan rebana. Isi syairnya adalah upaya tindakan menghadapi tsunami dengan memberikan tanda-tanda dan memerintahkan segera pergi ke bukit yang tinggi , tradisi ini mendapat penghargaan Sasakawa Award oleh ISDR (International Strategy For Disaster Reduction) Sebuah lembaga dibawah perserikatan Bangsa Bangsa. 

  2. CACI
    Pertunjukan Caci merupakan tarian khas suku Manggarai , Flores Barat , Nusa Tenggara timur. Pertunjukan dibuka dengan tarian Danding, biasa disebut Tondok Manggarai. Dua Orang saling melecut, menghindar sambil menari dan tersenyum, mengendalikan emosi dan tetap harus menjaga tata krama dan sopan santun, walau tubuh telanjang mereka terluka, tapi tetap tidak ada dendam. Sebagai sebuah rangkaian upacara , pertunjukan ini juga menghormati Naga Galo (Dewa penjaga kebakaran dan kerusuhan Kampung).

  3. TALEHU DAN GAGALA
    Syair lagu seperti juga pada tradisi lisan Nusantara lainnya, mempunyai peluang dijadikan medium untuk pewarisan nilai-nilai termasuk juga peringatan tentang bencana dari generasi ke generasi. Pada masyarakat Ambon terkenal dengan kesenian terutama nyanyian , terdapat dua lagu yang merupakan kearifan lokal tentang bencana yaitu Syair lagu Ambon Tulehu dan Syair Banjir Gagala.

    Ambon Tulehu
    Ambon tulehu ke harie e..
    Ada satu motor penuh dengan penumpang
    Lajaru mudi putar haluan kapal e..
    Motor tenggelam banyak orang tinggal berenang

    Tinggal dalam ombak angina arus tarik e..
    Karna lambar pertolongan e..
    Akibat mati banyak e..
  4. SYAIR TETEU SUKU MENTAWAI
    Suku Mentawai tinggal di kepulauan mentawai yang rawan bencana gempa dan tsunami. Merupakan suku yang kaya akan tradisi lisan turun temurun , termasuk di dalamnya adalah syair tentang datangnya gempa , seperti pada syair Teteu Amusiat Loga :

    Teteu Amusiat Loga / Teteu Katinambu Leleu
    Teteu grisit nyau-nyau /Amagolu teteu tai pelebuk
    arutandeahe baikona

    Kudak pai-pai gou-gou /Lalaei gou-gou
    Barasita teteu/ Lalaklak teteu
    Lalaklak paguru sailet

    Gempa tupai mencicit../ Gempa tupai mencicit
    Gempa gemuruh datang dari bukit / Gempa tanah longsor dan rusak /Karena pohon baiko telah ditebang

    Ekor ayam terlihat bergoyang / Ayam-ayam berlarian
    Kaarena gempa bumi datang / Orang-orang pun berlarian
  5. TARIAN MAENA PULAU NIASSuku Nias merupakan suku yang kaya akan budaya , baik arsitektur, tarian dan tradisi lisan. Maena merupakan satu tarian yang sebenarnya digunakan untuk upacara adat pernikahan atau menyambut tamu, dimana di dalam tarian Maena ini banyak dilantunkan syair-syair. peneliti tsunami dari Jepang, Yoko Takafuji dari Pusat Kajian Wilayah Asia Universitas Rikkyo Jepang, melihat peluang yang luar biasa dari tarian Maena ini karena sifatnya masif , untuk menyampaikan dan melestarikan tradisi pencegahan bencana melalui budaya (syair) untuk mengurangi risiko akibat bencana tsunami di Nias.

  6. ALAM MENGAWASI GUNUNG AWU
    Gunung Awu yang dalam bahasa Sangihe berarti abu, merupakan salah satu dari 129 gunung berapi yang ada di lintasan gunung api indonesia , meskipun tidak berada dalam lempeng Indo-Australia, pasifik atau Eurasia. Gunung yang pernah meletus setidaknya tecatat tahun 1640 -2004, telah merenggut 8000 nyawa. Sebagai sebuah system peringatan akan bahaya, berkembang dua mitos dalam masyarakat sanghie, yaitu mitos raksasa bangkeng dan mitos tenggelamnya kerajaan Masalihe . Keduanya adalah tentang moralitas yang harus dijaga oleh sesama manusia dan hubungannya dengan alam, sehingga ketika moral manusia tidak terjaga , sesungguhnya alam terus mengawasi untuk mengeluarkan bencana.

  7. ODALAN DI PURA LAUT
    Pura Laut Tanah Lot di Bali , merupakan sebuah pura di tengah pantai yang dipercaya oleh masyarakat Hindu sekitar sebagai pura para dewa penjaga laut. Setiap 210 hari sekali diadakan hari raya yang disebut Odalan, tepatnya pada Hari Suci Buddha Cemeng Langkir, sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan, untuk tetap menjaga alam laut. Legenda yang berkembang, Pura Tanah Lot ini dibangun seorang brahmana yang mempunyai banyak pengikut sehingga penguasa setempat menjadi iri dan mengusirnya. Pura ini mempunyai kelebihan adanya air tawar dan ular laut yang lestari sampai sekarang.

  8. UPACARA ADAT MACCERA TAPPAREANG
    Maccera tappareang merupakan sebuah upacara adat, representasi dari penghargaan terhadap hukum adat dan aturan mengelola danau tempe , yang berada di tiga kabupaten yaitu Wajo,Soppeng dan Sidrap , Sulawesi Selatan.
    Aturan yang ada dalam adat Maccera Tappareang adalah :1. Larangan
    2. Pengaturan Pemakaian Lahan Ketika Danau Surut
    3.Tidak Boleh berselisih ketika menangkap ikan.
    Aturan ini mempunyai makna ekologis-religius, makna ekologis-sosial dan menghindari konflik sosial. Hukum adat ini telah terlindungi dengan hukum positif seperti Undang-Undang Lingkungan Hidup dan Peraturan Daerah.
Demikian Artikel Ampuh mengenai Budaya dengan Judul Budaya Nusantara Digunakan Untuk Menghadapi Bencana Semoga membantu dan menambah wawasan nusantara kita.
Axact

Abdillah.S.A.S

Hanya Seorang Penulis Blog yang blognya selalu di copy paste tanpa ampun, dan Sekarang beralih menjadi penulis wisata di Aneka Wisata Nusantara

Post A Comment:

1 comments:

  1. yaudah makasih . yg jelas itu berdoa dan tetap berdoa

    ReplyDelete